Rabu, 26 Maret 2014

FILSAFAT CONFUSIUS



FILSAFAT CONFUSIUS
Mah. Elfan Falah


Latar Belakang Konfusius
Confucius lahir pada tahun 551 SM di negara Lu, bagian selatan provinsi Shantung, tepatnya di Cina bagian Timur. Nama Confucius adalah nama latin yang diberikan oleh para ilmuwan yang mempelajari dan mendalami ajarannya. Nama aslinya dalam budaya China adalah K’ung Ch’iu.  Nenek moyangnya termasuk anggota keluarga bangsawan penguasa negara Sung, yang merupakan keturunan keluarga raja-raja Shang, suatu dinasti sebelum dinasti Chou. Sebelum kelahirannya terjadi kekacauan politik, sehingga keluarganya kehilangan posisi kebangsawanan dan bermigrasi ke negara Lu.[1]
Pada masa mudanya, Confucius adalah seorang yang miskin, namun masuk dalam jajaran pemerintahan negara Lu. Ketika melihat bahwa jajaran pemerintahan yang ada mulai menyeleweng dari tugas yang benar, Confucius memutuskan berhenti sebagai pejabat pemerintahan. Ia kemudian ingin merealisasikan cita-citanya yaitu ingin melakukan perbaikan di bidang politik dan sosial. Namun keinginannya tersebut sulit terealisir karena konsep pemikirannya yang berbeda dengan pemerintahan yang berkuasa pada waktu itu. Ia kemudian menjadi guru pengembara yang mengajarkan jalan melaksanakan pemerintahan yang baik. Jalan hidup dan ajarannya terpusat pada tiga hal, yakni mengabdi kepada negara/pemerintahan, menggapai kaum muda, dan mengajarkan budaya leluhur kepada generasi penerus.[2]
Rasa Kemanusiaan 
Confusius mengatakan bahwa rasa kemanusiaan terkandung dalam sikap mengasihi terhadap manusia yang lain. Manusia yang benar- benar mengasihi manusia yang lain adalah manusia yang dapat melaksanakan kewajiban dalam masyarakat. Prinsip dan makna dari kata ini adalah “tidak melakukan kepada orang lain apa yang tidak kita inginkan orang lain perbuat kepada kita”. Confusius menyebut prinsip ini sebagai aspek negatif, yang disebut shu. Sedangkan aspek positif adalah “ Lakukanlah kepada orang lain, sesuatu yang kamu sendiri ingin orang lain melakukannya kepadamu”. Prinsip ini disebut Chung atau tenggang rasa terhadap orang lain. Contoh penerapan dalam kehidupan sehari-hari adalah bila kita tidak ingin dihina, janganlah kita menghina orang lain. Chung dan shu merupakan jalan dalam mempraktekkannya.[3]
Pendidikan menurut Confusius
Confusius berusaha menata secara baik terhadap situasi dan kondisi masyarakat Cina sesuai dengan adat-istiadat yang berlaku pada waktu itu melalui sarana pendidikan dengan cara membenahi hal-hal yang dipandang tidak benar. Confusius berpendapat bahwa pendidikan memiliki dua tujuan, yaitu:
• Khusus: membimbing dan mendidik agar senantiasa siap menjadi generasi-generasi penerus bangsa.
• Umum: mewujudkan manusia-manusia yang bermoral, pandai, dan mempunyai rasa tanggung jawab kepada masyarakat, bangsa dan negara.
Confucius mengatakan bahwa di dalam dunia pendidikan tidak mengenal tinggi dan rendahnya kedudukan seseorang: semua sama. Di dalam buku Analects, Confucius berkata bahwa:
• Belajar lebih intensif
• Mengajar tidak memandang keturunan
• Mengajar harus sesuai dengan kecakapan para murid
• Mengajar hendaknya dianggap sebagai media hiburan
• Mengajar hendaknya menggunakan metode yang tepat
• Mengajar hendaknya tanpa adanya rasa segan
• Mengajar hendaknya merupakan evaluasi dari beberapa kasus yang timbul
• Belajar hendaknya merupakan sesuatu yang lebih bermanfaat.
Kedelapan prinsip tersebut diatas, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Confucius, tidak hanya berpengaruh dalam pendidikan kuno saja, tetapi hal ini masih dan tetap digunakan dalam pendidikan modern saat ini.[4]
Confucius dikenal sebagai filosof Cina, ciri khas pemikiran pragmatis dan melingkupi hal-hal yang sifatnya praktis; sehingga lebih banyak menjauhi masalah-masalah yang dogmatis (teoritis), dalam hal ini kebenaran dibuktikan melalui akal dan dibuktikan melalui empiris. Menurut Lasiyo sebagaimana dinyatakan oleh Confucius kepada murid-muridnya bahwa sebaiknya dalam menghadapi suatu permasalahan hendaknya diusahakan dengan berpikir secara mandiri, maka tidak mudah mengikuti pendapat orang lain dan harus dapat menganalisis secara benar, ia berkata: ”Sang guru tidak boleh mendiktekan sesuatu kebenaran kepada murid-muridnya, murid-murid harus berpikir sendiri dan apabila kebenaran menurut mereka bertentangan dengan apa yang diajarkan gurunya mereka dapat mendebat gurunya”. Maka seorang pendidik yang baik adalah pendidik yang memberi kebebasan berpikir kepada anak didiknya sehingga mereka dapat menghasilkan penemuan-penemuan baru, jika kebenaran yang didapatkan berlainan dengan yang diajarkan oleh sang pendidik, maka peserta didik diperbolehkan mengadu argumentasi, untuk lebih menumbuhkembangkan pemikiran dan penalaran mereka, maka dalam hal ini dibutuhkan kematangan dalam berfikir dan berperilaku.
Salah satu konsep yang mendasar dalam pendidikan Confucius ialah konsep mengenai Tao. Tao sendiri mempunyai arti ”Jalan/cara” (the way) atau ”alur” (path). Tao adalah “Jalan”, dengan huruf besar J, artinya jalan diatas segenap jalan lain yang seharusnya diikuti manusia.  Tujuan yang hendak dicapainya ialah kebahagiaan, dalam hidup ini, disini dan kini, untuk segenap umat manusia.
KBK dalam Pendidikan Confusius
Kurikulum berbasis kompetensi, suatu perencanaan dengan dasar kompetensi. Seperti telah dijabarkan sebelumnya terlihat sangat mementingkan peran aktif siswa atau peserta didik hal ini diperlihatkan pada metode pelajaran yang disusun dalam KBK. Dalam metode ini seperti dituliskan sebelum ini yaitu dalam pembelajaran yang lebih kepada eksperimen, konstruksi masalah dan kompetensi.
Dalam tataran ini memang pada kurikulumberbasis kompetensi begitu jelasnya berusaha menggambarkan pendidikan yang diajarkan oleh confucius lebih jauh lagi dalam tujuan yang diambil dalam kurikulum berbasis kompetensi kurang lebih mirip dengan pengertian pendidikan confucianisme serta pola yang dibangun yaitu:
• Belajar hendaknya merupakan sesuatu yang lebih bermanfaat
• Mengajar hendaknya dianggap sebagai media hiburan
• Mengajar hendaknya merupakan evaluasi dari beberapa kasus yang timbul, dll.[5]
Selain itu, Confucius sendiri juga mengatakan bahwa pendidikan yang diterapkan pada masanya tidak hanya berpengaruh dalam pendidikan kuno saja, tetapi hal ini masih dan tetap digunakan dalam pendidikan modern saat ini. Akan tetapi kita tidak bisa mengambil kesimpulan bahwa model pendidikan confucianisme sama dengan sistem pendidikan KBK. Karena jika kita teliti lebih dalam lagi, walaupun banyak kesamaan antara sistem KBK dengan pendidikan Confucianisme, namun sebenarnya antara keduanya sangat berbeda. Hal tersebut terlihat pada masih ada rasa segan diantara kedua belah pihak, baik dari pihak pengajar maupun peserta didik, serta masih ada otoritas dari pendidik.[6]
Namun, bagaimanapun juga dengan metode baru serta pandangan filosofis yang bisa dikatakan baru dilaksanakan pada kurikulum pendidikan di Indonesia diharapkan bisa membangun sumber daya manusia menjadi lebih baik.







KESIMPULAN
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, kurikulum berbasis kompetensi sebagai suatu kurikulum yang mendasari rencana pendidikan dan pembelajaran di Indonesia ini adalah suatu kemajuan sendiri dalam perjalanannya. Hal ini sudah barang tentu sebagai suatu usaha pembangunan manusia Indonesia kearah yang lebih baik lagi.
Hanya saja kurikulum di Indonesia kembali terjebak pada pola pendidikan yang tetap mempertahankan otoritas pendidik dalam kelas (pada pendidikan formal) walaupun dengan metode sekarang yang lebih variatif. Secara substansial, pendidikan dengan dasar KBK belum sampai kepada pendidikan yang dianut oleh Confucius. Akan tetapi, memang metode-metode pendidikan yang sudah dan sedang dijalankan sudah mendekati kepada tujuan pendidikan Confucianisme. Boleh dikatakan tinggal beberapa langkah lagi sampai kepada idealisme pendidikan Confucianisme.





[1] Darmaningtyas. Pendidikan pada dan setalah Krisis. Yoyakarta:Pustaka Pelajal.1999
[4] Yun-Lan Fung. Sejarah Filsafat Cina. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

[6] Reksosusilo, S. Dr.,CM. Diktat Filsafat Cina. Malang: Widya Sasana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar