FILSAFAT
CONFUSIUS
Mah. Elfan Falah
Latar Belakang
Konfusius
Confucius lahir pada tahun 551 SM di negara
Lu, bagian selatan provinsi Shantung, tepatnya di Cina bagian Timur. Nama
Confucius adalah nama latin yang diberikan oleh para ilmuwan yang mempelajari
dan mendalami ajarannya. Nama aslinya dalam budaya China adalah K’ung
Ch’iu. Nenek moyangnya termasuk anggota keluarga bangsawan penguasa
negara Sung, yang merupakan keturunan keluarga raja-raja Shang, suatu dinasti
sebelum dinasti Chou. Sebelum kelahirannya terjadi kekacauan politik, sehingga
keluarganya kehilangan posisi kebangsawanan dan bermigrasi ke negara Lu.[1]
Pada masa mudanya, Confucius adalah seorang
yang miskin, namun masuk dalam jajaran pemerintahan negara Lu. Ketika melihat
bahwa jajaran pemerintahan yang ada mulai menyeleweng dari tugas yang benar,
Confucius memutuskan berhenti sebagai pejabat pemerintahan. Ia kemudian ingin
merealisasikan cita-citanya yaitu ingin melakukan perbaikan di bidang politik
dan sosial. Namun keinginannya tersebut sulit terealisir karena konsep pemikirannya
yang berbeda dengan pemerintahan yang berkuasa pada waktu itu. Ia kemudian
menjadi guru pengembara yang mengajarkan jalan melaksanakan pemerintahan yang
baik. Jalan hidup dan ajarannya terpusat pada tiga hal, yakni mengabdi kepada negara/pemerintahan,
menggapai kaum muda, dan mengajarkan budaya leluhur kepada generasi penerus.[2]
Rasa
Kemanusiaan
Confusius mengatakan bahwa rasa kemanusiaan
terkandung dalam sikap mengasihi terhadap manusia yang lain. Manusia yang
benar- benar mengasihi manusia yang lain adalah manusia yang dapat melaksanakan
kewajiban dalam masyarakat. Prinsip dan makna dari kata ini adalah “tidak
melakukan kepada orang lain apa yang tidak kita inginkan orang lain perbuat
kepada kita”. Confusius menyebut prinsip ini sebagai aspek negatif, yang
disebut shu. Sedangkan aspek positif adalah “ Lakukanlah kepada orang
lain, sesuatu yang kamu sendiri ingin orang lain melakukannya kepadamu”.
Prinsip ini disebut Chung atau tenggang rasa terhadap orang lain. Contoh
penerapan dalam kehidupan sehari-hari adalah bila kita tidak ingin dihina,
janganlah kita menghina orang lain. Chung dan shu merupakan jalan
dalam mempraktekkannya.[3]
Pendidikan menurut Confusius
Confusius berusaha menata secara baik terhadap situasi
dan kondisi masyarakat Cina sesuai dengan adat-istiadat yang berlaku pada waktu
itu melalui sarana pendidikan dengan cara membenahi hal-hal yang dipandang
tidak benar. Confusius berpendapat bahwa pendidikan memiliki
dua tujuan, yaitu:
•
Khusus: membimbing dan mendidik agar senantiasa siap menjadi generasi-generasi
penerus bangsa.
• Umum:
mewujudkan manusia-manusia yang bermoral, pandai, dan mempunyai rasa tanggung
jawab kepada masyarakat, bangsa dan negara.
Confucius
mengatakan bahwa di dalam dunia pendidikan tidak mengenal tinggi dan rendahnya
kedudukan seseorang: semua sama. Di dalam buku Analects, Confucius berkata
bahwa:
•
Belajar lebih intensif
•
Mengajar tidak memandang keturunan
•
Mengajar harus sesuai dengan kecakapan para murid
•
Mengajar hendaknya dianggap sebagai media hiburan
•
Mengajar hendaknya menggunakan metode yang tepat
•
Mengajar hendaknya tanpa adanya rasa segan
•
Mengajar hendaknya merupakan evaluasi dari beberapa kasus yang timbul
• Belajar
hendaknya merupakan sesuatu yang lebih bermanfaat.
Kedelapan
prinsip tersebut diatas, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Confucius,
tidak hanya berpengaruh dalam pendidikan kuno saja, tetapi hal ini masih dan
tetap digunakan dalam pendidikan modern saat ini.[4]
Confucius
dikenal sebagai filosof Cina, ciri khas pemikiran pragmatis dan melingkupi
hal-hal yang sifatnya praktis; sehingga lebih banyak menjauhi masalah-masalah
yang dogmatis (teoritis), dalam hal ini kebenaran dibuktikan melalui akal dan dibuktikan
melalui empiris. Menurut Lasiyo sebagaimana dinyatakan oleh Confucius kepada
murid-muridnya bahwa sebaiknya dalam menghadapi suatu permasalahan hendaknya
diusahakan dengan berpikir secara mandiri, maka tidak mudah mengikuti pendapat
orang lain dan harus dapat menganalisis secara benar, ia berkata: ”Sang guru
tidak boleh mendiktekan sesuatu kebenaran kepada murid-muridnya, murid-murid
harus berpikir sendiri dan apabila kebenaran menurut mereka bertentangan dengan
apa yang diajarkan gurunya mereka dapat mendebat gurunya”. Maka seorang
pendidik yang baik adalah pendidik yang memberi kebebasan berpikir kepada anak
didiknya sehingga mereka dapat menghasilkan penemuan-penemuan baru, jika
kebenaran yang didapatkan berlainan dengan yang diajarkan oleh sang pendidik,
maka peserta didik diperbolehkan mengadu argumentasi, untuk lebih
menumbuhkembangkan pemikiran dan penalaran mereka, maka dalam hal ini dibutuhkan
kematangan dalam berfikir dan berperilaku.
Salah
satu konsep yang mendasar dalam pendidikan Confucius ialah konsep mengenai Tao.
Tao sendiri mempunyai arti ”Jalan/cara” (the way) atau ”alur” (path). Tao
adalah “Jalan”, dengan huruf besar J, artinya jalan diatas segenap jalan lain
yang seharusnya diikuti manusia. Tujuan
yang hendak dicapainya ialah kebahagiaan, dalam hidup ini, disini dan kini,
untuk segenap umat manusia.
• KBK dalam Pendidikan Confusius
Kurikulum
berbasis kompetensi, suatu perencanaan dengan dasar kompetensi. Seperti telah
dijabarkan sebelumnya terlihat sangat mementingkan peran aktif siswa atau
peserta didik hal ini diperlihatkan pada metode pelajaran yang disusun dalam
KBK. Dalam metode ini seperti dituliskan sebelum ini yaitu dalam pembelajaran
yang lebih kepada eksperimen, konstruksi masalah dan kompetensi.
Dalam tataran ini memang pada kurikulumberbasis
kompetensi begitu jelasnya berusaha menggambarkan pendidikan yang diajarkan
oleh confucius lebih jauh lagi dalam tujuan yang diambil dalam kurikulum
berbasis kompetensi kurang lebih mirip dengan pengertian pendidikan
confucianisme serta pola yang dibangun yaitu:
• Belajar hendaknya merupakan sesuatu yang
lebih bermanfaat
• Mengajar hendaknya dianggap sebagai media
hiburan
• Mengajar hendaknya merupakan evaluasi dari
beberapa kasus yang timbul, dll.[5]
Selain itu, Confucius sendiri juga mengatakan
bahwa pendidikan yang diterapkan pada masanya tidak hanya berpengaruh dalam
pendidikan kuno saja, tetapi hal ini masih dan tetap digunakan dalam pendidikan
modern saat ini. Akan tetapi kita tidak bisa mengambil kesimpulan bahwa model
pendidikan confucianisme sama dengan sistem pendidikan KBK. Karena jika kita
teliti lebih dalam lagi, walaupun banyak kesamaan antara sistem KBK dengan
pendidikan Confucianisme, namun sebenarnya antara keduanya sangat berbeda. Hal
tersebut terlihat pada masih ada rasa segan diantara kedua belah pihak, baik
dari pihak pengajar maupun peserta didik, serta masih ada otoritas dari
pendidik.[6]
Namun, bagaimanapun juga dengan metode baru
serta pandangan filosofis yang bisa dikatakan baru dilaksanakan pada kurikulum
pendidikan di Indonesia diharapkan bisa membangun sumber daya manusia menjadi
lebih baik.
• KESIMPULAN
Seperti yang telah dibahas sebelumnya,
kurikulum berbasis kompetensi sebagai suatu kurikulum yang mendasari rencana
pendidikan dan pembelajaran di Indonesia ini adalah suatu kemajuan sendiri
dalam perjalanannya. Hal ini sudah barang tentu sebagai suatu usaha pembangunan
manusia Indonesia kearah yang lebih baik lagi.
Hanya saja kurikulum di Indonesia kembali
terjebak pada pola pendidikan yang tetap mempertahankan otoritas pendidik dalam
kelas (pada pendidikan formal) walaupun dengan metode sekarang yang lebih
variatif. Secara substansial, pendidikan dengan dasar KBK belum sampai kepada
pendidikan yang dianut oleh Confucius. Akan tetapi, memang metode-metode
pendidikan yang sudah dan sedang dijalankan sudah mendekati kepada tujuan
pendidikan Confucianisme. Boleh dikatakan tinggal beberapa langkah lagi sampai
kepada idealisme pendidikan Confucianisme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar