HUBUNGAN
AKHLAK DENGAN IMAN
Moh. Elfan Falah
1.
PENGERTIAN
DAN RUANG LINGKUP AKHLAK
Sebagaimana telah kita
ketahui bahwa komponen (utama) agama Islam adalah akidah, syari'ah dan akhlak. Penggolongan itu didasarkan pada
penjelasan Nabi Muhammad kepada Malaikat Jibril di depan para sahabatnya mengenai arti Islam, Iman
dan Ihsan yang ditanyakan Jibril kepada Beliau. Intinya hampir sama dengan isi yang dikandung
oleh perkataan akidah dan akhlak. Perkataan ihsan (tersebut di atas) berasal dari kata
ahsana-yuhsinu-ihsanan yang berarti berbuat baik.
Dari sinilah asal perumusan ilmu akhlak yang merupakan
koleksi ugeran yang memungkinkan timbulnya hubugan yang baik antara makhluk dan
Khalik serta antara makhluk dengan makhluk lain. Menurut definisi yang
dikemukakan oleh Al-Ghazali, akhlak adalah; “suatu sifat yang tertanam dalam
jiwa (manusia) yang dapat melahirkan suatu perbuatan yang mudah dilakukan,
tanpa telalu banyak pertimbangan dan pemikiran yang larna”.[1]
Maka jika sifat tersebut melahirkan suatu
perbuatan atau tindakan yang terpuji menurut ketentuan akal dan norma agama, dinamakan akhlak yang
baik. Tetapi manakala ia melahirkan perbuatan yang jahat, maka dinamakan akhlak yang buruk.
Suatu perbuatan baru dapat disebut sebagai
cerminan akhlak, jika memenuhi syarat berikut ini;
1.
Dilakukan berulang-ulang sehingga hampir menjadi suatu kebiasaan
Pendidikan
Agama Islam
2.
Timbul dengan sendirinya, tanpa pertimbangan yang lama dan dipikir-pikir
terlebih dahulu.
Dipandang dari terminologi, ilmu akhlak adalah
ilmu yang menentukan batas baik dan buruk, antara yang terpuji dengan yang tercela tentang
perkataan dan perbuatan manusia lahir dan batin. Akhlak
terhadap makhluk, dapat dibagi dua yaitu ;
(1)
akhlak terhadap manusia dan
(2)
akhlak terhadap bukan manusia.
Akhlak
terhadap manusia dibagi lagi menjadi dua yaitu;
(a)
akhlak terhadap diri sendiri sedang
(b)
akhlak terhadap orang lain dapat disebut misalnya akhlak terhadap Rasulullah,
akhlak terhadap orang
tua, akhlak karib terhadap kerabat, akhlak terhadap tetangga, akhlak terhadap masyarakat.
2. URGENSI MEMPELAJARI AKHLAK
Akhlak merupakan pilar
jiwa pribadi yang memiliki keutamaan, penyangga masyarakat yang bermartabat.
Suatu masyarakat akan tegak selama ada akhlak di dalamnya dan akan hancur
ketika akhlak tidak ada di dalamnya. Dalam pandangan agama umumnya dan Islam
khususnya, akhlak memiliki tempat yang tinggi dan kedudukan yang terhormat.
Pujian tertinggi al-Qur`an untuk Rasulullah Saw. adalah:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
”Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang
agung” (QS. al-Qalam/68: 4).
Nabi Saw. sendiri menyimpulkan risalah yang dibawanya
dalam sabdanya:s
“Sesunggguhnya aku diutus
hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. (HR. al-Bukhârî).
Mengacu kepada Hadits di
atas, tidak heran jika kemudian kita mendapati ulama besar setaraf Ibn
al-Qayyim menyatakan bahwa agama adalah akhlak. Pernyataan ini sejalan dengan
sabda Rasulullah Saw.:
“Orang Mukmin yang paling
sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya”. (HR. al-Tirmidzî).
“Kebajikan itu adalah
akhlak yang baik”. (HR. Muslim).
“Tidak ada yang lebih berat
dalam timbangan amal seorang Mukmin pada hari kiamat dari akhlak yang baik”. (HR. al-Tirmidzî).
Demikianlah, bagi agama,
akhlak merupakan pilar penopang, sedang bagi masyarakat, akhlak merupakan
pondasi. Agama tidak sekadar mengajak dan memuji akhlak mulia. Lebih dari itu,
agama membangun kaidah-kaidahnya, menentukan batas-batasnya, menetapkan tolok
ukurnya, memberi sejumlah contoh bagi beberapa perilaku, mendorong manusia
untuk konsisten memedomaninya, mewanti-wanti mereka agar tidak melakukan
penyimpangan.
Akhlak mulia menjadi tujuan dari misi besar
agama. Apa yang diajarkan dalam agama akan dapat terlaksana dengan baik jika
para umatnya memiliki landasan akhlak yang mulia.
3. HUBUNGAN AKHLAK DENGAN IMAN
Orang beriman hidup demi
satu risalah yang agung, beramal demi satu tujuan yang mulia, dan hidup di
bawah naungan nilai-nilai luhur. Ia hidup untuk dan di atas nilai-nilai luhur
tersebut, yaitu merasa dekat dengan Allah, meneladani akhlak-Nya, dan berusaha
meraih ridha-Nya. Di jalan nilai-nilai ini ia berjuang mengalahkan nafsunya
serta meredam tirani naluri hewani dan syahwatnya, demi ridha-Nya, guna meraih
apa yang ada di sisi-Nya, karena percaya akan pahala-Nya. Ia letakkan tepat di
depan matanya firman Tuhannya:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ
النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ
وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ
مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ (14) قُلْ
أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ
جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ
مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ (15)
الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا ءَامَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (16) الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ
وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ(18)
Artinya: “Dijadikan indah pada
(pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda
pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di
dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah:
“Inginkah Aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”
Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada
surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan
(mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah dan
Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdoa: “Ya
Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami
dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (yaitu) orang-orang yang sabar, yang
benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang
memohon ampun di waktu sahur”. (QS. Âli ‘Imrân/3: 14-17).
Upaya meneladani akhlak Allah artinya adalah upaya
sungguh-sungguh dan lestari menuju keluhuran dan kesempurnaan; usaha
berkelanjutan untuk meneladani kesempurnaan Tuhan sesuai dengan kemampuan dan
kesiapan manusia.
Bukti bahwa akhlak itu sangat penting telah di kibarkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah
hadis beliau, sebagai berikut:
وعن عا ئشة رضى الله عنها قا لت : سمتث ر سول الله صلى الله
عللىه وسلم يقول: ان الؤمن ليدرك بحسن خلقه درجةالصا ئم القا ئم (روه ابو دود)
Artinya:
Dari Aisyah ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw. Barsabda:
“Sesungguhnya orang mukmin dengan budi pekerti yang baik, dapat mengejar derajat orang yang selalu berpuasa dan selalu
salat malam.: (H.R. Abu Daud)[2]
Juga
dalam hadis beliau lagi yang berbunyi :
روى التر
مذى عن عبدالله بن المبارك رحمه الله فى تفسير حسن الجلق قال: هوطلاقةالوجه
وبذلالمعروف وكف الاذىز
Artinya
: “Diriwayatkan oleh Dtirmidzi dar Abdullah dari Al-Mubarak, beliau mengartikan
budi pekerti yang baik adalah : “ Bermuka manis, memberi pertolongan dalam
kebaikan, dan mencegah sesuatu yang membahayakan”.
Hadis di
atas sudah jelas sekali bahwa antara iman dan akhlak sangat urgen sekali,
dilihat dari hadis yang pertama bahwa orang mukmin dapat mengejar derajatnya
orang-orang yang selalu berpuasa dan salat malam manakala ia bias berperangai
atau berbudi pekerti yang baik. Juga dalam hadis yang kedua bahwa bermuka manis
dapat memberikan pertolongan dalam mencegah sesuatu yang membahayakan, artinya
bermuka manis adalah budi pekerti yang baik terhadap sesame musliam.
Itulah
pentingnya budi pekerti luhur atau dikenal dengan akhlakul karimah dalam setiap
diri orang mukmin, maka tidaklah dikatakan orang mukmin yang sejati manakala ia
masih belum mempunyai budi pekerti yang baik ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar